Sunday, April 13, 2008

Re: [Hukum-Online] Bahan Perenungan : Zalimnya Pemerintahan Ini

walah pak.....

saya cuman mengeluarkan unek2 aza...he...he...he...saya perhatikan di negara kita kok banyak kebalik2...kadang saya malah jadi bingung sendiri

ada freeport, yang jelas2 ngeruk kandungan emas negara kita banyak2...eh kita cuman kebagian dicipratin dikit...hik..hik...hasilnya buat orang-orang amerika sana...saya yakin kontribusi tambang freeport buat negara leluhurnya (USA) itu sangat2 besar....kalo saja freeport berhenti beroperasi, saya yakin pasar saham newyork akan guncang......bayangin kalo hak bagi hasil itu tetep ada di tangan kita, bisa buat ganti subsisi bbm lah....

kasus BLBI yang menerpa petinggi BI  .... sudah jelas kasus itu adalah kasus yang diduga menggerogoti keuangan BI, lah mosok BI/yayasan di BI malah membiayai perlawanan para petinggi BI ini...apa ini gak kebalik2 nalarnya ? Kayak orang kemalingan ayam, tapi malah si maling dikasih ayam lagi ama yang kemalingan supaya gak dianggap maling......aneh...aneh... Kalo pake nalar yang bener, para petinggi BI itu harus pake uangnya sendiri (uang pribadi) untuk membela kasusnya...gak ada malah BI ikut2 keluar duit....aneh khan ?

banyaklah keanehan di negeri ini....

"Pray.Al Fajri" <prayitno.ie@lge.com> wrote:

wah saya jadi terharu dengan pak Ibenk sanjaya..salut unttk pola pikir yang mengarah ke subsidi untuk
rakyat. memang betul pa'ibenk sanjaya kl sebuah negara masih belum mampu membrikan kersejahteraan
untuk rakyatnya itu pemimpinnya yang tidak bisa mengatur negara itu, di indonesia para pemimpin nya hny
mementingkan perutnya sendiri aja,,makanya ditahun 2009 ini kita akan memilih lagi calon pemimpin, kira2
pa'ibenk sanjaya dari partai mana yah,,trus mencalonkan diri ngga pak/'..kalo mencalonkan saya jadi team
suksenya deh..hehhehe..
----- Original Message -----
Sent: Saturday, April 12, 2008 9:16 AM
Subject: Re: [Hukum-Online] Bahan Perenungan : Zalimnya Pemerintahan Ini

saya prihatin sekali soal dicabutnya berbagai subsidi

pemerintah sepertinya memiliki kebanggaan semu, bahwa kalau suatu produk dijual kepada rakyat/konsumen dengan harga pasar mengikuti ekonomi dunia itu suatu hal yang lazim...padahal buat saya itu salah, salah besar....justru semakin mengecilnya subsidi buat rakyat itu berarti semakin gagalnya tujuan terbentuknya negara....

tujuan dibentuknya negara adalah untuk memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. titik. Jadi negara harus berusaha sekuat dan sebesar-besar memberi rakyatnya kesehjahteraan. Bahkan bila mampu, seluruh kebutuhan rakyat harus disubsidi 100 %...itu arah yang benar...jika mampu pendidikan gratis, kesehatan gratis, bbm gratis, beras gratis, baik buat si kaya maupun si miskin, dll, ....itu arah tujuan terbentuknya negara yang benar.

Negara-negara kaya, sudah menerapkan hal seperti itu...pendidikan gratis sampai perguruan tinggi, jaminan sosial, dll.....tapi negara kita malah me nghapus subsidi, tapi menaikkan gaji pejabat pemerintahan, gaji anggota dewan....kita negara kaya tapi miskin nalar ....

Sarno Abdullah <sarno@wands-law.com> wrote:

ini baru andaikata, sebagai orang yang lapar dan bila kebetulan dikaruniai badan tegap dan sigap, pikiran kalut semacam pak Djumari, langkah  apa yang hendak dia lakukan dan kebetulan ada sedan mewah lewat didepannya, dan mogok, bisa dibayangkan, andaikata dia melakukan sesuatu perbuatan demi bisa makan, dan ketahuan oleh orang lain yang bersenjata, manakala sedang berbuat dan tertembaklah dia hingga menemui ajal, bagaimana menurut sobat, rekan, bapak, ibu dsb.......
 
----- Original Message -----
From: Heryana
Sent: Friday, April 11, 2008 12:45 PM
Subject: [Hukum-Online] Bahan Perenungan : Zalimnya Pemerintahan Ini


fyi, sekedar sharing aja siapa tahu bisa menambah kesadaran kita bahwa ada yg lebih kurang beruntung kehidupannya dibanding kita. Coba pejabat2 tsb ada yg baca ini....


 *Zalimnya Pemerintahan Ini. *

 26 Mar 08 13:54 WIB

 /Oleh *Rizki Ridyasmara*/

 Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi
 trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang
 matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik
 utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan
 dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar.
 Matanya memandang kosong ke arah jalan.

 Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari,
 demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang
 biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta
 Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?"
 tanya saya.

 Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang
 seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia
 limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya."

 Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan,
 katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya
 bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi
 harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari
 bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba
 kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang
 cekung.

 "Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami
 kelak.., " ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya
 tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata.
 Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi
 beban hidupnya.

 Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana.
 "Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya
 di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat
 dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan
 dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami
 begini ."

 Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

 Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang
 melingkar di leher. "/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada
 pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan
 saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang
 ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana,
 punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja.
 " Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

 "/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin
 kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari
 menerawang.

 Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati
 menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita,
 oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak
 Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

 Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam
 membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras
 darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya.
 Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

 Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup
 mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut
 'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah,
 fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan
 honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan,
 akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila
 lainnya. /Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! /

 Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja
 untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan
 diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang
 menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum
 rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya
 kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa
 zalimnya pemerintahan kita ini!

 Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para
 pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri
 minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil
 mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk
 hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar
 negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

 Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil
 berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu
 merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di
 tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya
 mual dibuatnya.

 Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak,
 ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap
 dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu
 menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan
 numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang
 sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

 Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu
 apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa
 agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak
 Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup.
 Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan
 mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus
 dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka
 masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

 Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium
 keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi
 sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...

 Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui
 konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling
 ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...

 Amien Ya Allah.

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

__._,_.___
---------- [ Hukum-Online-subscribe@yahoogroups.com ] --------->
       SARANA MENCARI SOLUSI KEADILAN HUKUM DI INDONESIA
Mailing List Hukum Online adalah wadah untuk saling bertukar pikiran dan berkonsultasi untuk saling membantu sesama.
1. Bagi Praktisi, Hukum Online : wadah untuk mengasah kemampuan dan bertukar pikiran, ilmu dan pengalaman
2. Bagi yang awam hukum, Hukum Online : wadah untuk berkonsultasi untuk mencari solusi dan memecahkan masalah
--------------------------------------------------------------->
Ingat Masalah dan Sengketa Hukum Ingat Hukum-Online@yahoogroups.com
Hukum-Online@yahoogroups.com : Domain mailing list dengan kriteria penyebutan Hukum Online disambung tanda hubung ditengah-tengah dengan domain yahoogroups.com , dan kami bukan underbow website hukum yang lain
--------------------------------------------------------------->

Seting Mailing List
1. Seting normal untuk menerima e-mail individu
Hukum-Online-normal@yahoogroups.com
2. Seting sistem paket harian [sehari hanya menerima 1 - 3 e-mail]
Hukum-Online-digest@yahoogroups.com
3. Seting tidak menerima e-mail utk sementara waktu
Hukum-Online-nomail@yahoogroups.com
-------------------------
Dilarang
1. Dilarang mengirimkan SPAM
2. Dilarang mengirimkan materi Mesum dan SARA

Salam

Hukum Online
Moderator

Notes :
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masyarakat Indonesia yang Sadar akan Hukum serta membantu program Corporate Social Responsibility (CSR), maka Milis Hukum Online mencari pembicara yang memiliki kompetensi di bidang Hukum. Tujuannya adalah mencerdaskan & membuat bangsa Indonesia sadar & melek akan Hukum melalui kegiatan/aktivitas yang terjangkau masyarakat.

Apabila anda berminat, kirimkan CV anda ke : hukum.online@yahoo.co.id disertai dengan spesialisasi keahlian anda.
Kami tunggu kabar baik dari rekan-rekan.
Salam
Hukum Online
Recent Activity
Visit Your Group
Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Yahoo! Groups

Join a program

to help you find

balance in your life.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

.

__,_._,___

No comments:

Google